DIFUSI
A. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi larutan terhadap kecepatan difusi
B. Alat dan Bahan
B.1 Alat
1. Karter 1 buah
2. Penggaris 1 buah
3. Pinset 1 buah
4. Lensa tangan 1 buah
5. Aqua gelas 2 buah
6. Beaker glass 2 buah
B.2 BAhan
1. Kentang
2. Larutan iodium
3. Kertas grafik
C. Cara Kerja
1. Dipotong kentang menjadi 8 kubus berukuran 1x1x1 cm
2. Disiapkan 2 buah wadah aqua gelas. lalu diberi kode A dan B
3. Dituangkan larutan iodium 0,5% di gelas aqua A dan 1,5% digelas aqua B
4. Dimasukan 4 buah kubus kentag tersebut kedalam masing- masing gelas
5. Ditunggu selang waktu 10 menit, diambil 1 kubus kentang dari gelas aqua
6. Dipotong kubus kentang menjadi 2 bagian
7. Di ukur jarak larutan iodium yang berdifusi ke dalam kubus tersebut dari tepi
8. Dimasukan data hasil pengukuran
D. Hasil Pengamatan
D.1 Pengenceran
1. Pengenceran Iodin 0,5%
V1xM1 = V2xM2
V1x10 = 500x0,5
V1 = 250/10
V1 = 25 ml
2. Pengenceran iodin 1,5%
V1xM1 = V2xM2
V1x10 = 500x1,5
V1 = 500x1,5/ 10
V1 = 75 ml
D.2 Tabel Pengamatan
1. Iodin 0,5% : 10menit= 0,5mm, 20m= 1mm, 30m= 2mm, 40m= 3mm
2. Iodin 1,5% : 10menit= 1mm, 20m= 2,5mm, 30m= 3,5mm, 40m= 4mm
E. Pembahasan
Pada pratikum difusi ini, untuk mengetahui pengaruh konsentrasi larutan terhadap kecepatan difusi, bahan yang digunakana berupa kentang, kentang tersebut dipotong dengan ukuran 1x1x1 cm, sedangkan larutan yang digunakan adalah larutan iodin yang telah diencerkan sebelumnya, dalam pratikum ini digunakan konsentarsi larutan yg berbeda dimana 0,5% dan 1,5%, menggunakan larutan iodin karena larutan ini baik sebagai indikator dalam uji amilum, pada dasrnya kentang yanga digunakan juga bnayak mengandung amilum, warna biru pekat pada iodin untuk mempermudah pengamatan terhadap panjang penyerapan difusi.
Menurut Abbas (2006), Iodin merupakan larutan indikator yang berwarna biru, biasa digunakan dalam uji amilum pada uji aaktivitas enzim, larutan iodin yang digunakan, akan nampak berwarna biri pada media agar rose NA yang apada dasrnya mengandung amilum,
Dari hasil percobaang mengenai pengaruh konsentrasi larutan terhadap kecepatan difusi, yang dilakukan terhadap kentang dengan menggunakan larutan iodin 0,5% dan 1,5% didapatkan hasil sesuai dengan tabel pengamatan diatas, apada tabel hasil pengamatan terlihat bahwa di 10menit pertama, larutan iodin dengan konsentraso 0,5% dapat diserpa oleh kentang sepanjang 0,5 mm, dari yang berukuran 1x1x1 cm, sedangkan larutan iodin 1,5% dapat diserai sepnajang 1
TRANSPIRASI TUMBUHAN
Kamis, 17 November 2011
KEJUJURAN
seseorang kadang berfikir negatif tentang kehidupan saya, serba uang, serba have fun dan serba benar, mereka tak pernah tau.... uang bukanlah segalanay, kesenagan adalah salah satu bentuk pelampiasan saja karena merasa sendiri dan serba benar karena saya tak pernah mau orang lain tau tentang saya, tentang pribadi saya
saya ada karena anda(ayah dan bunda)
tapi karena lingkungan lah pola berfikir dan karakter saya dibentuk
saya ingin orang mengenal saya bukan karena siapa saya
siapa ayah saya
tapi
saya ingin orang lain mengenal saya karena kemampuan saya
saya memang tak bisa banyak hal
tapi saya suka menulis
saat saya terluka dan merasa sedih
saat saya jatuh cinta
dan saat saya merasa senang
saat ini
sekarang dan besuk saya ingin tulisan saya
bisa bermanfaat bagi pembaca
TRANSPIRASI TUMBUHAN
A. Tujuan
1. Mengetahui kecepatan transpirasi dalam waktu tertentu
2. Mengetahui jumlah air yang diuapkan persatuan luas daun dalam waktu tertentu
B. Alat dan Bahan
1. Botol 100cc 1buah
2. Timbangan torsi 1 buah
3. Gunting 1buah
4. Tanaman Acalipha (puring) secukupnya
5. Air secukupnya
6. Kertas HVS secukupnya
7. Gabus secukupnya
8. Vaseline secukupnya
C. Cara Kerja
1. Diisi botol dengan air sebanyak kurang lebih setengahnya dan ditutup dengan gelas berlubang, ukuran lubang disesuaikan dengan diameter ranting tanaman
2. Dimasukan kedalam tanaman Acalpyna (puring) kedalam botol sampai kedalam air melalui lubang gabus, pemotongan ranting sebelum dimasukan kedalam botol harus dilakukan didalam ember berisi air, tidak boleh dilakukan di udara terbuak
3. Dioleskan vaseline pada tepi lubang gabus tempat tanaman masukdan sekeliling gabus tempat tanaman masuk
4. Ditimbang botol tersebut dan dicatat beratnya
5. Diletakan dalam ruangan yang terkena cahaya atau dekat cendela
6. Diletekan dalam ruangan yang terkena cahaya
7. Ditimbang kembali setelah 30 menit, sebanyak 3 kali
8. DIukur luas daun setelah penimbangan terahir
a. Setiap daun dibuat pola dengan menggunakan kertas HVS dan seluruh pola daun
b. Dibuat potongan kertas seluas 1 cm dan ditimbang beratnya, misalnya= y gram
c. Rumus total daun x/y
Menghitung kecepatan transpirasi setiap cm daun setiap jam denagn rumus a/b
D. Hasil pengamatan
D.1 Perlakuan dan waktu
Perlakuan 1(cahaya) : 0menit= 261 gr, 30m= 261 gr, 60m= 259 gr, 90m= 256 gr
Perlakuan 2(cahaya+angin) : 0m= 247 gr, 30m= 247 gr, 60m= 245 gr, 90m= 245 gr
D.2 Perlakuan dan kecepatan transpirasi
Perlakuan 1(cahaya) : 30m= o mg, 60m= 46,78 mg, 90m= 116, 94 mg
Peralakuan 2(cahaya=angin) : 30m= 23,39 mg, 60m= 46,78 mg, 90m= 46,78 mg
E. Pemabahasan
Transpiration is a hydrological process that is strangly affected by forest fires (Michales, 2010: 1). Transpiration is generally a large component of the foreat water cycle (Komatsu, 2007: 1). Transpirasi merupakan aktivitas fisiologis yang sangat dinamis. berperan sebagai mekanisme adaptasi terhadap kondidi linkunganya (Suyono, 2009: 4)
Pratikum fisiologi tumbuhan mengenai transpirasi yag mempunyai tujuan untuk mengetahui kecepatan transpirasi dalam waktu tertentu serta mengetahui jumlah air yang diuapkan persatuan luas daun dalam waktu tertentu, tanaman yang digunakan adalah daun puring (Acalopyta sp), pada pratikum ini terdapat 2 perlakuan, perlakuan pertama daun puring diletakan dibawah cahaya dan pada perlakuan kedua daun puring diletakan dibawah cahaya diberi angin.
Berdasarkan hasli pengamatan diketahi pada 30 menit pertama, kecepatan transpirasi daun dengan perlakun dua lebih besar dibandingkan dengan perlakuan pertama, bisa terlihat pada tabel diatas, angka tersebut bukanberarti daun tidak melakukan respirasi akan tetapi dimungkinkan memiliki ketelitian yang kurang sehingga ketika dihitung selisih berat sebelum dan sesudah tidak dapat diketahui karena sangat kecilnya selisih berat.
Menurut Salisbury (1992), kegiatan transpirasi dipengaaruhi banyak faktor baik faktor dalam maupun luar, faktor dalam anatara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, belapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun.
Pada 60 menit kemudian didapatkan kecepatan transpirasi yang sama antara daun dengan perlakuan 1 dan 2, yaitu 46, 78 mg/cm, hal ini dimukinkan pada pertengahan waktu perlakuan suatu tanaman yag semula diletakan dibawah lampu dipindah dibawah sinar matahari, pada 90 menit kemudian didapatkan kecepatan transpirasi daun dengan perlakuan pertama lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan ke 2, ini dipengaruhi oleh cahaya dan matahari lebih besar mempengaruhi dibandingakan dengan lampu dan angin.
Perbedaan kecepatan transpirasi yang didapat menunjukan adanya pengaruh fakor luas terhadap jumlah air yang diuapkan, Menurut Haryanti (2008), pada intensitas cahaya yang tinggi kelembapan udara berkurang, sehingga proses tranpirasi berlangsung lebih cepat.
Pada pratikum mengenai transpirasi ini, perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman difokuskan pada lapisan epidermis atas maupun bawah. walaupun sebenarnya juga terdapat uap air yang keluar melalui lentisil yang ada di batang, hal tersebut dapat terliaht dari adanya uap air pada botol.
Menurut Lestari (2006), kekurangan air didalam jaringan tanaman dapat disebabkan oleh kehilangan air yang berlebihan pada saat transpirasi melalaui stomata dan sel lain seperti kutikula, Menurut Tjitrosomo (1985), transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui stomata dapat melali kutikula walaupun haya 5- 10% dari jumlah air yang ditranspirasika, didaerah beriklim sedang, air sebagian besar menguap melaluai stomata, Transpirasi dibedakan menjadi 3 maca, berdasarkan tempatnya yaitu transpirasi stomata, transpirasi kutikula, transpirasi lentikuler. (Dwijoyoseputro, 1989: 90).
Daftar Pustaka
Dwidjoseputro. 1989. Pengantar Fisiologi Tumbuha. Jakarta: PT. Gramedia
Haryati, Sri. 2008. Respon Pertumbuhan Jumlah. Vol 3(10). hal: 20- 26
Komatsu, hikaru. 2007. Bull Tokyo Univ. Vol 117. hal: 1- 9
Lestari, Endang G. 2006. Brodruesitas. Vol 7(1). hal: 44- 46
Suyitno. 2009. Brodervisitas. Vol IX (3). hal 1- 16
Tjitrosomo, S. S. 1985. Botani Umum 2. bandung: Angkasa
1. Mengetahui kecepatan transpirasi dalam waktu tertentu
2. Mengetahui jumlah air yang diuapkan persatuan luas daun dalam waktu tertentu
B. Alat dan Bahan
1. Botol 100cc 1buah
2. Timbangan torsi 1 buah
3. Gunting 1buah
4. Tanaman Acalipha (puring) secukupnya
5. Air secukupnya
6. Kertas HVS secukupnya
7. Gabus secukupnya
8. Vaseline secukupnya
C. Cara Kerja
1. Diisi botol dengan air sebanyak kurang lebih setengahnya dan ditutup dengan gelas berlubang, ukuran lubang disesuaikan dengan diameter ranting tanaman
2. Dimasukan kedalam tanaman Acalpyna (puring) kedalam botol sampai kedalam air melalui lubang gabus, pemotongan ranting sebelum dimasukan kedalam botol harus dilakukan didalam ember berisi air, tidak boleh dilakukan di udara terbuak
3. Dioleskan vaseline pada tepi lubang gabus tempat tanaman masukdan sekeliling gabus tempat tanaman masuk
4. Ditimbang botol tersebut dan dicatat beratnya
5. Diletakan dalam ruangan yang terkena cahaya atau dekat cendela
6. Diletekan dalam ruangan yang terkena cahaya
7. Ditimbang kembali setelah 30 menit, sebanyak 3 kali
8. DIukur luas daun setelah penimbangan terahir
a. Setiap daun dibuat pola dengan menggunakan kertas HVS dan seluruh pola daun
b. Dibuat potongan kertas seluas 1 cm dan ditimbang beratnya, misalnya= y gram
c. Rumus total daun x/y
Menghitung kecepatan transpirasi setiap cm daun setiap jam denagn rumus a/b
D. Hasil pengamatan
D.1 Perlakuan dan waktu
Perlakuan 1(cahaya) : 0menit= 261 gr, 30m= 261 gr, 60m= 259 gr, 90m= 256 gr
Perlakuan 2(cahaya+angin) : 0m= 247 gr, 30m= 247 gr, 60m= 245 gr, 90m= 245 gr
D.2 Perlakuan dan kecepatan transpirasi
Perlakuan 1(cahaya) : 30m= o mg, 60m= 46,78 mg, 90m= 116, 94 mg
Peralakuan 2(cahaya=angin) : 30m= 23,39 mg, 60m= 46,78 mg, 90m= 46,78 mg
E. Pemabahasan
Transpiration is a hydrological process that is strangly affected by forest fires (Michales, 2010: 1). Transpiration is generally a large component of the foreat water cycle (Komatsu, 2007: 1). Transpirasi merupakan aktivitas fisiologis yang sangat dinamis. berperan sebagai mekanisme adaptasi terhadap kondidi linkunganya (Suyono, 2009: 4)
Pratikum fisiologi tumbuhan mengenai transpirasi yag mempunyai tujuan untuk mengetahui kecepatan transpirasi dalam waktu tertentu serta mengetahui jumlah air yang diuapkan persatuan luas daun dalam waktu tertentu, tanaman yang digunakan adalah daun puring (Acalopyta sp), pada pratikum ini terdapat 2 perlakuan, perlakuan pertama daun puring diletakan dibawah cahaya dan pada perlakuan kedua daun puring diletakan dibawah cahaya diberi angin.
Berdasarkan hasli pengamatan diketahi pada 30 menit pertama, kecepatan transpirasi daun dengan perlakun dua lebih besar dibandingkan dengan perlakuan pertama, bisa terlihat pada tabel diatas, angka tersebut bukanberarti daun tidak melakukan respirasi akan tetapi dimungkinkan memiliki ketelitian yang kurang sehingga ketika dihitung selisih berat sebelum dan sesudah tidak dapat diketahui karena sangat kecilnya selisih berat.
Menurut Salisbury (1992), kegiatan transpirasi dipengaaruhi banyak faktor baik faktor dalam maupun luar, faktor dalam anatara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, belapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun.
Pada 60 menit kemudian didapatkan kecepatan transpirasi yang sama antara daun dengan perlakuan 1 dan 2, yaitu 46, 78 mg/cm, hal ini dimukinkan pada pertengahan waktu perlakuan suatu tanaman yag semula diletakan dibawah lampu dipindah dibawah sinar matahari, pada 90 menit kemudian didapatkan kecepatan transpirasi daun dengan perlakuan pertama lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan ke 2, ini dipengaruhi oleh cahaya dan matahari lebih besar mempengaruhi dibandingakan dengan lampu dan angin.
Perbedaan kecepatan transpirasi yang didapat menunjukan adanya pengaruh fakor luas terhadap jumlah air yang diuapkan, Menurut Haryanti (2008), pada intensitas cahaya yang tinggi kelembapan udara berkurang, sehingga proses tranpirasi berlangsung lebih cepat.
Pada pratikum mengenai transpirasi ini, perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan tanaman difokuskan pada lapisan epidermis atas maupun bawah. walaupun sebenarnya juga terdapat uap air yang keluar melalui lentisil yang ada di batang, hal tersebut dapat terliaht dari adanya uap air pada botol.
Menurut Lestari (2006), kekurangan air didalam jaringan tanaman dapat disebabkan oleh kehilangan air yang berlebihan pada saat transpirasi melalaui stomata dan sel lain seperti kutikula, Menurut Tjitrosomo (1985), transpirasi dalam tanaman atau terlepasnya air melalui stomata dapat melali kutikula walaupun haya 5- 10% dari jumlah air yang ditranspirasika, didaerah beriklim sedang, air sebagian besar menguap melaluai stomata, Transpirasi dibedakan menjadi 3 maca, berdasarkan tempatnya yaitu transpirasi stomata, transpirasi kutikula, transpirasi lentikuler. (Dwijoyoseputro, 1989: 90).
Daftar Pustaka
Dwidjoseputro. 1989. Pengantar Fisiologi Tumbuha. Jakarta: PT. Gramedia
Haryati, Sri. 2008. Respon Pertumbuhan Jumlah. Vol 3(10). hal: 20- 26
Komatsu, hikaru. 2007. Bull Tokyo Univ. Vol 117. hal: 1- 9
Lestari, Endang G. 2006. Brodruesitas. Vol 7(1). hal: 44- 46
Suyitno. 2009. Brodervisitas. Vol IX (3). hal 1- 16
Tjitrosomo, S. S. 1985. Botani Umum 2. bandung: Angkasa
Langganan:
Komentar (Atom)